10:20 pm - Thursday July 24, 2014

Seni Tradisi: Kerajinan Anyaman

Oleh: ALAMSYAH PUTRA*)
A. PENDAHALUAN

Tradisi artinya turun temurun atau kebiasaan yang sering dilakukan oleh masyarakat. Seni tradisional berarti suatu kesenian yang dihasilkan secara turun-temurun atau kebiasaan berdasarkan norma-norma, patron-patron atau pakem tertentu yang sudah biasa berlaku. Seni tradisi bersifat statis, tidak ada unsur kreatif sebagai ciptaan baru hanya seperti itu saja. Sebagai contoh dapat kita lihat pada lukisan gaya Kamasan Klungkung, kriya wayang kulit, kriya batik, kriya tenun, dan sebagainya.

Seni tradisional adalah unsur kesenian yang menjadi bagian hidup masyarakat dalam suatu kaum/puak/suku/bangsa tertentu. Tradisional adalah aksi dan tingkah laku yang keluar alamiah karena kebutuhan dari nenek moyang yang terdahulu. Tradisi adalah bagian dari tradisional namun bisa musnah karena ketidakmauan masyarakat untuk mengikuti tradisi tersebut. Seni tradisi merupakan akar perkembangan kebudayaan yang memberi ciri khas identitas atau kepribadian suatu bangsa.

Seni tradisi tidak mati. Tradisi menyediakan bahan baku yang berlimpah yang setiap saat siap untuk diciptakan kembali. Untuk memelihara tradisi dibutuhkan imajinasi. Memelihara tradisi bukanlah sekedar memelihara bentuk, tetapi lebih pada jiwa dan semangat atau nilai- nilai. Jika yang diwarisi nilai-nilai, maka kita akan dengan lebih leluasa bisa melakukan interpretasi dan menciptakannya kembali, sekaligus juga kita akan mewarisi sikap kreatif dan imajinasi yang subur sebagaimana dimiliki nenek moyang kita yang telah berhasil menciptakan karya-karya besar di masa lampau. Dengan demikian akan selalu dapat menyelaraskan semangat kesenian tradisi di masa kini.

Sebagai seniman kita tidak melihat tradisi dan modernisasi sebagai dua hal yang terpisah. Tugas seorang seniman adalah memodernisasi tradisi melalui proses kreatif, bukan meniru, meminjam, mencangkok, atau menjadi bayang-bayang seni budaya bangsa lain. Seorang seniman harus rajin melakukan ziarah batin guna mencermati diri sendiri, agar memungkinkan tradisi mengalir bebas dalam kehidupan kita kini. Serta sebagai seniman akademis harus mampu melihat tradisi yang bisa jadi ide penciptaan karya dan mampu mengangkat seni tradisi sendiri.

Seni kerajinan tangan anyaman adalah sesuatu karya yang unik dan rumit proses pembuatannya. Namun usaha untuk mempertahankannya harus di teruskan agar tidak termakan oleh perkembangan zaman. Budaya bangsa bukan hanya di lihat dari bahasa dan ragamnya saja, tetapi juga di lihat dari hasil karyanya yang bermutu tinggi. Warisan budaya yang unik ini harus selalu di terus di pelihara dan di manfaatkan bersama.

Tujuan mengangkat seni tradisi supaya seni tradisi tidak hilang akan bisa lestari. Soalnya seni tradisi juga tidak kalah menarik dikarenakan seni tradisi tidak lepas dari ritual, kepercayaan didalamnya. Seni tradisi salah satu seni yang sangat unik karena beragam hias bermacam-macam. Ini merupakan tujuan untuk memperkenalkan seni tradisi kepada seluruh orang.

II. PEMBAHASAN

Nilai-nilai seperti apakah sesungguhnya yang dapat dipelajari dan dimanfaatkan, baik dalam kaitan kepentingan pribadi maupun kelompok (masyarakat)? Benarkah tradisi memiliki aspek spiritual (mental) dan aspek material (fisikal) yang amat berguna bagi perorangan ataupun kelompok?. Nilai-nilai tentu saja bukan suatu yang berkaitan langsung dengan kepentingan praktis. Demikian pila nilai-nilai dalam seni tradisi, kita dapat belajar dan memahami tentang semangat (spirit) komunalitas dan partisipasiatau dedikasi.(hal 14)

Seni tradisi dihadapkan secara diametral dengan perubahan yang pesat di segala sektor.itulah yang secara sederhana disebut sebagai modern. Tradisi dan modern menjadi dua kutub yang saling tarik menarik. Di satu sisi mempersoalkan nilai-nilai, di sisi lain mempersoalkan efektivitas dan efisiensi.(hal 17) Seperti yang telah dibicarakan di muka,bahwa secara ideal masyarakat-masyarakat melayu menjadikan nila-nilai islam sebagai landasan kebudayaan mereka. Berdasarkan kerangka yang demikian yang demikian maka, kesenian dalam hidupnya hanya menempati posisi sebagai persoalan duniawi saja. Kelangsungan hidup musik atau seni pertunjuka semata-mata mereka pandang merupakan sesuatu yang hanya terkait dengan persoalan tradisi dan skula(hal 31)

Kesenian itu telah diwarisinya secara turun temurun dan mereka memandangnya patut dipelihara. Oleh karenanya, kesenian tersebut menjadi tradisional sebagaimana yang di maksud Edward Shils, yaitu sesuatu yang diteruskan atau di tularrkan dari masa lampau ke masa kini di karenakan patut di contoh dan dipelihara. Kesenian yang merupakan bagian dari sistem adat, sebagaimana misalnya musik talempong dalam adat batagak pengulu (mendirikan pengulu suku) kebudayaan orang minang kabau atau gadang tambua dalam adat menanti tamu pembesar pada upacara batagak gadang dimasyarakat pariaman, dsb., kelangsungan hidupnya agar bertahan selama adat itu masih dijunjung tinggi masyarakat penduduknya. Dalam hal ini adat tersebutlah yang memerlukan kesenian yang bersangkutan di sebabkan oleh karena kesenian itu merupakan bagian yang interdependen dengan bagian lainya dalam sistem adat itu.

Sebaliknya ialah kesenian tradisoanal yang bukan bagian dari adat kesenian yang seperti ini pada dasarnya bertahan terutama lebih mengandalkan pada aspek estetika disaping kemungkinan ada kaitannya dengan faktor lain yang tidak ada hubungannya persoalan estetika, seperti misalnya untuk kepentingan politis,status sosial,sejarah, dsb. (hal 33)

Nilai ritual adalah konsep nilai yang berkenaan dengan upacara keagamaan atau tatacara dalam agama, yang hadir berupa bentuk pertunjukan kesenian untuk memperkuat kepercayaan, serta memformulasikan konsepsi agama dalam kehidupan. Pertunjukan kesenian seperti tari merupakan ungkapan pengabdian yang tinggi nilainya untuk mrnghormati dewa-dewi sebagai manifestasi ida sang hyang widi wasa. (hal 70) Niali sepritual adalah nilai sifat dan mutu dari pengalaman indah dalam kejiwaaan, yang menyakut masalah hasil obyektif moral dan bertujuan untuk pembentukan jiwa. Spiritual memerlukan konsentrasi jiwa dan raga yang mengutamakan batin dan kerohanian terpusat secara vertikal. Nilai ini yang perlu di perdalam oleh seorang pecipta tari sebab konteknya terhadap hasil karya sangat intens. (hal 71)

Anyaman merupakan seni tradisi yang tidak mempunyai pengaruh dari luar. Perkembangan Sejarah anyaman adalah sama dengan perkembangan seni tembikar. Jenis seni anyaman pada masa Neolitik kebanyakan adalah menghasilkan tali, rumah dan keperluan kehidupan. Bahan daripada akar dan rotan adalah bahan asas yang awal digunakan untuk menghasilkan anyaman. Menurut Siti Zainun dalam buku Reka bentuk kraftangan Melayu tradisi menyatakan pada zaman pemerintahan Long Yunus (1756-94) di negeri Kelantan, penggunaan anyaman digunakan oleh raja. Anyaman tersebut dipanggil ‘Tikar Raja’ yang diperbuat daripada pohon bemban

Ada beberapa hal yang harus diketahui tentang sejarah anyaman, yaitu :

1. Dipercayai seni graf tangan muncul dan bergembang tanpa pengaruh luar.
2. Pada zaman dahulu, kegiatan anyaman dilakukan oleh kaum wanita untuk mengisi masa senggang dan bukan sebagai mata pencarian utama.
3. Hasil graf tangan dijadikan alat untuk kegunaan sendiri atau sebagai hadiah untuk anak saudara atau sahabat handai sebagai tanda kasih atau kenang-kenagan.
4. Seseorang wanita dianggap tidak mempunyai sifat kewanitaan yang lengkap jika dia tidak mahir dalam seni anyaman.
5. Proses anyaman biasanya dijalankan oleh kaum wanita; lelaki hanya menolong menetap daun dan memprosesnya.
6. Perusahaan anyaman biasanya dilakukan secara individu dan secara kecil-kecilan yang merupakan satu usaha ekonomi bagi orang-orang di kampung.
7. Kini,terdapat organisasi dan perbadanan yang mengusahakannya, dengan skala yang besar seperti cawangan-cawangan Perbadanan Kemajuan Kraftangan Malaysia, Persatuan Gerakan Wanita Felda, Pusat Graftangan Felda, dan sebainya.
8. Hasilan anyaman bermutu tinggi bagi memenuhi keperluan pelanggan.Hasilan anyaman tidah terkongkong dalam bentuk tradisional sahaja. Ciptan dimensi baru dari segi rupa dan bentuk, warna dan corak, teknik dan bahan sering diubah-ubahkan mengiikut peredaran zaman dan cita rasa pelanggan.

Jenis Anyaman Bahan Hasil anyaman

Anyaman Mengkuang Daun mengkuang Tikar, tudung salji, bekas pakaian dan lain-lain Anyaman pandan Daun pandan duri Tikar sembahyang, hiasan dinding, Anyaman Buluh Jenis-jenis buluh yang sesuai Bakul, bekas pakaian, nyiru, beg dan lain-lain. Anyaman Rotan Rotan yang telah diproses Bakul, bekas pakaian, tempat buaian anak dan lain-lain Anyaman Lidi Lidi kelapa Lekar, bekas buah, bekas telor. Anyaman ribu-ribu Paku pakis ribu-ribu. Tempat tembakau, bekas sirih terbus, bakul, bekas seba guna dan lain-lain.

Seni anyaman ialah milik masyarakat Melayu yang masih dikagumi dan digemari sehingga hari ini. Kegiatan seni anyaman ini telah bermula sejak zaman dahulu lagi. Ini boleh dilihat pada rumah-rumah masyarakat zaman dahulu di mana dinding rumah mereka dianyam dengan buluh dan kehalusan seni anyaman itu masih bertahan sehingga ke hari ini. Rumah yang berdinding dan beratapkan nipah tidak panas kerana lapisan daun nipah yang tebal menebat pengaliran haba.

Seni anyaman dipercayai bermula dan berkembang tanpa menerima pengaruh luar. Penggunaan tali, akar dan rotan merupakan asas pertama dalam penciptaan kraftangan anyaman yang telah menjadi usaha tradisi sejak berabad-abad lalu. Bahan-bahan asas tumbuhan ini tumbuh meliar di hutan-hutan, paya-paya, kampung-kampung dan kawasan di sekitar pasir pantai.

Pelbagai rupabentuk kraftangan dapat dihasilkan melalui proses dan teknik anyaman dari jenis tumbuhan pandanus (pandan dan mengkuang). Bentuk-bentuk anyaman dibuat didasarkan kepada fungsinya. Misalnya bagi masyarakat petani atau nelayan, kerja-kerja anyaman dibentuk menjadi bakul, topi, tudung saji, tikar dan aneka rupa bentuk yang digunakan sehari-harian.

Selain daripada tumbuhan jenis pandanus, bahan asas lain yang sering digunakan ialah daripada tumbuhan bertam, jenis palma engeissona tritis dan nipah. Berdasarkan bahan dan rupa bentuk anyaman yang dihasilkan, seni anyaman ini merupakan daya cipta dari kelompok masyarakat luar istana yang lebih mengutamakan nilai gunaannya. Walau bagaimanapun pada sekitar tahun 1756 hingga1794 telah terdapat penggunaan tikar Raja yang diperbuat daripada rotan tawar dan anyaman daripada bemban.

Proses menganyam disebut juga sebagai “menaja”. Untuk memulakan satu-satu anyaman waktu yang baik ialah pada sebelah pagi atau malam. Dalam keadaan cuaca yang redup atau dingin, daun-daun lebih lembut dan mudah dibentuk tanpa meninggalkan kesan-kesan pecah. Biasanya beberapa orang melakukan anyaman ini berkelompok di halaman rumah atau beranda rumah pada waktu malam, petang atau waktu-waktu senggang pada sebelah pagi (jika kelapangan, kerana waktu pagi biasanya dipenuhi dengan kerja-kerja tertentu).

Rupa bentuk anyaman tradisi yang masih kekal penciptaan dan fungsinya hingga kini ialah tikar. Selain tikar yang datar dengan sifat dua dimensi, terdapat rupa bentuk anyaman tiga dimensi. Bentuk-bentuk anyaman begini biasanya digunakan oleh masyarakat pada masa dahulu untuk mengisi atau menyimpan bahan-bahan keperluan hidup dan kegunaan seharian. Beberapa daripada rupa bentuk ini ialah bakul, kampit (bekas belacan), tudung saji, kembal (rombong) dan sebagainya.

Terdapat dua ciri-ciri penting dalam ragam hias anyaman, iaitu penciptaan kelarai (motif) dan corak. Istilah kelarai dikhususkan kepada motif yang “berbentuk” (selalunya unsur alam) sementara corak dimaksudkan kepada susunan warna tanpa memperlihatkan kepada susunan warna dan bentuk motif. Anyaman tanpa kelarai disebut sebagai “gadas”. Terdapat kira-kira 51 jenis kelarai yang berdasarkan unsur-unsur alam semulajadi seperti unsur-unsur tumbuhan dan binatang.

Di sesetengah tempat kelarai dimaksudkan kepada anyaman yang diperbuat daripada buluh dan digunakan sebagai dinding atau penyekat ruang rumah. Sementara di sesetengah tempat lain anyaman seperti ini diperbuat daripada bahan bertam yang disebut sebagai tupas. Ciptaan kelarai atau tupas lebih kukuh, tegas dan kasar bersesuaian dengan fungsinya sebagai penyekat ruang. Tiada bukti yang jelas untuk menetapkan tarikh bermulanya penciptaan kelarai. Melalui kajian yang dibuat dapat dikatakan bahawa penciptaan kelarai dalam anyaman merupakan satu perlakuan yang telah lama berlaku.

Bunga sulam merupakan satu teknik yang terdapat dalam ragam hias anyaman di mana ia akan mencantikkan lagi hasil yang telah dibentuk. Teknik sulam adalah teknik susun susup. Kesan bentuk bunga yang dibuat lebih merupakan kesan geometri asas seperti susunan bentuk tiga, segi empat, potong wajik dan sebagainya lagi. Seni kerja tangan anyaman adalah sesuatu yang unik lagi rumit buatannya. Namun begitu, usaha untuk mempertahankan keunikan seni ini haruslah diteruskan agar tidak ditelan peredaran zaman. Budaya negara bukan sahaja dicerminkan melalui bahasa pertuturan dan adat resam bangsanya tetapi juga dicerminkan melalui kehalusan kerja tangan bermutu tinggi. Seni warisan yang unik ini wajar diberi perhatian, sokongan dan bantuan supaya dapat terus dipelihara dan dimanfaatkan bersama.

Zaman dahulu menganyam tikar,
Sunyi menyepi desa terpinggir,
Seni anyaman haruslah diajar,
Jangan tinggal sebutan dibibir.

Buluh muda mudah dilentur,
Buat ampaian penyidai jala,
Semangat juang belum luntur,
Seni anyaman jangan dilupa.

Daftar Pustaka
Seni tradisi menantang perubahan, STSI-Padangpanjang:2004
Komunikasi tradisi dalam realitas seni rumpun melayu, ISI Padangpanjang:2010
Estetika dan tradisi, stsi bandung 1997 jurnal seni
Leigh,Barbara,”Tangan-Tangan Trampil”,Djambatan,Jakarta:1989

Sumber lian

http://www.tanohaceh.com/?tag=anyaman-tikar

http://indonetwork.co.id/alloffers/tikar-anyaman.html

http://www.anneahira.com/kayu/anyaman.htm

*) Penulis adalah mahasiswa Jurusan Kriya Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Padangpanjang

Filed in: ESAI

No comments yet.

Leave a Reply