4:50 pm - Monday April 21, 2014

Puisi-Puisi L.K. Ara

L.K.Ara, lahir di Takengon, Aceh, 12 November 1937. Pernah menjadi redaktur budaya Harian Mimbar Umum (Medan), Pegawai Sekretariat Negara, terakhir bekerja di Balai Puataka hingga pensiun (1963-1985). Bersama K. Usman, Rusman Setiasumarga dan M. Taslim Ali, mendirikan Teater Balai Pustaka (1967). Memperkenalkan penyair Tradisional Gayo, To’et, mentas di kota-kota besar Indonesia. Menulis puisi, cerita anak-anak dan artikel seni dan sastra. Dipublikasikan di Koran dan majalah di Indonesia, Malaysia dan Brunai.

KABAR TANGSE

Seperti menepati janji
Ia datang lagi
Setelah hampir setahun tak singgah
… Lengkap dengansuara gemuruh dan air bah
Deras air tak terkira
Jalanan putus ia dera
Rumah rumah ia bawa hanyut
Isi rumah tak luput

Orang orang tak berdaya
Selain berdoa
Alam marah
Karena hutan sudah dirambah

Ketika kampong runtuh
Dan airbah tak tertahan
Adakah mereka tunduk
Mengingat dengan khusuk
Kepada pencipta alam dan semua mahkluk

Banda Aceh, 29 Februari 2012

KAIN BERMOTIF KERAWANG

di ruang yang penuh cahaya
lampu memberikan sinar
dinding bergetar
… gambar tergantung berkilau.

di sebuah sisi ruang
yang benderang
dipajang kain tua
rapi letaknya
bermotif kerawang
dari negeri antara.

sudah berapa lama
ia ada disana
buatan siapa
dari zaman apa
tak banyak yang tahu
hanya udara dalam ruang
menggenang selalu
semacam menyimpan rindu yang bisu.

Banda Aceh, 22 Februari 2012

INGAT PULAU BANYAK

ingat pulau banyak
ingat pulau yang terserak
diantara biru laut yang beriak.

Ingat pulau banyak
Ingat langit biru melengkung
Dan sejumlah pulau bagai terkurung
Diantara nyiur melambai
Pasir putih pantai

ingat pulau banyak
ingat cerita seseorang
ditelinga masih terngiang
penyu hijau akankah hilang
karena kasih kita semakin renggang.

Banda Aceh, 15 Februari 2012

MARI KITA MENEBAR CAHAYA

Mari kita menebar cahaya
Di kampong dan kota
Demi bumi aulia tercinta
… Sehingga daun daun berkilauan
Dan bunga bunga bermekaran

Mari kita tebarkan kata kata indah
Dari rumah ibadah
Hingga gedung mewah
Dan gubuk rakyat di desa
Sehingga setiap hati kita sejuk
Dan wajah kita basah oleh air wuduk

Cahaya adalah semangat perdamaian
Yang kita impikan
Yang kita rindukan
Cahaya adalah semangat untuk bangkit
Dari keterpurukan
Membela yang lemah
Yang terbungkuk oleh kesulitan

Wahai Allah Pemilik Cahaya
Sirami kami dengan cahaya Mu
Kami yang selalu merindu
Agar selalu dapat menebar cahaya
Kepada setiap hati saudara saudara kami
Yang rindu pada kasih dan cahaya

Banda Aceh, 11 Februari 2012

TUNDUKKAN KEPALA

bungkukkan tubuh
tundukkan kepala
saat menempuh lorong
… saat kita dikepung
batu batu dan dinding batu.

tundukkan juga kepala
saat melangkah
di jalan luas terbentang
penuh bunga bertabur
tanda kita bersyukur.

Banda Aceh, 11 Februari 2012

BUNGA BERSALAMAN

di ruang musola komplek dpra
suara azan dikumandangkan
shalat dhuhur kami tunaikan
… dengan perasaan nyaman.

kemudian dilanjutkan doa
diucapkan perlahan
diaminkan perlahan.

ruangan mulai sepi
aku masih disini
terpaku kaligrafi
dan hiasan penuh ukiran
bunga bunga bertebaran.

bunga bunga dijalin
seperti bersalaman
simbul yang mengesankan

akankah demikian
anggota dewan yang terhormat
membela rakyat
bersalaman dengan erat

Banda Aceh, 30 Januari 2012

SELIMUT RINDU

selimut rindu
kabut yang terbentang
di bukit di lembah
… berwarna putih atau ungu
selimut rindu
terbujur sepanjang sungai
menghangatkan air yang berderai
selimut rindu
tergantung di pohon
cabang ranting dedaunan
selimut rindu
sinar yang datang
untuk menerangi kalbu

Banda Aceh,2 Februari 2012

PEMILIK SEPI

ia menikam diri berkali-kali

tidak hanya dengan belati
tapi dengan sedih tak terperi.

ia ingat guru
ia ingat yang diburu
di tempat sunyi
ingin bertemu
dengan pemilik sepi

Banda Aceh, 7 Januari 2012

BAHASA ALAM

jemarimulah itu ibu

yang meletakkan benih
di petak sawah
jemarimulah itu ibu
mengulurkan kasih
pada petak bertuah.

subuh datang membawa sinar
membimbing kita menemukan cahaya
subuh datang membawa kesejukan
membawa kita mengenal kelembutan
bahasa alam
yang kadang terlupakan

jemarimulah itu ibu
yang meletakkan benih kasih
pada kelopak hati kami
sejak udara masih pagi
seperti cahaya
biarlah ia jadi penyejuk
yang runduk

dan menyimpan cahaya

Banda Aceh, 4 Januari 2012

BENTANGKAN TANGAN

bentangkan tangan
terimalah tujuh lapis gelombang
datang dari pantai seberang
… bentangkan tangan
ucapkan selamat datang
pada debur pucuk gelombang
yang membawa berita
dari karang
yang semadi ditengah lautan.

Bentangkan tangan
Getar hatimu rasakan
Ia mengalir kesana
Kerelung relung tak terduga
Ia ingin berdiam disana
Berteduh disana
Sambil belajar mencari makna

Banda Aceh, 4 Januari 2012

Filed in: PUISI PILIHAN

No comments yet.

Leave a Reply