2:06 pm - Monday July 28, 3264

Seni Tradisi Populer Aceh Sebagai Media Komunikasi Sosial

Oleh: Sulaiman Juned

PENDAHULUAN

Seni tradisi adalah gambaran kebudayaan suatu masyarakat pada sebuah daerah. Indonesia memiliki keberagaman seni lokalitas yang sangat kaya dengan kearifan lokal. Kekayaan kultur budaya bangsa dalam seni tradisi secara tidak langsung memiliki karakter etnis yang sangat beragam dan berbeda.

Karya-karya yang dipertunjukan oleh seniman-seniman tradisional, merupakan suatu bukti betapa beragamnya kultur-seni dan budaya masyarakat Indonesia. Berdasarkan itulah, ini kali penulis ingin membahas tiga seni tradisi Aceh sebagai media komunikasi sosial. kesenian Aceh rata-rata memiliki transformasi moral dan sosial. Tiga seni tradisi tersebut; Teater tutur P.M.T.O.H, Sandiwara Keliling Gelanggang Labu, dan Biola Aceh.

Ketiga bidang seni yang penulis paparkan ini, berangkat dari realitas sastra Aceh (hikayat) menuju realitas seni pertunjukan. Dewasa ini tanpa sengaja berangkat dari perkembangan jaman kesenian tradisi mulai bergeser pungsinya, awalnya menjadi alat komunikasi dalam ruang sosial bagi kehidupan bermasyarakat di Aceh. Seni tradisi ini memang masih tetap bertahan di Aceh, walau terasa sudah mulai langka. Hal ini disebabkan oleh terjadinya konflik bersenjata yang begitu panjang antara Gerakan Atjeh Merdeka dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang melahirkan kondisi psikologis terhadap masyarakat Aceh. Tindakan sosial yang terjadi di Aceh sebelum dilaksanakan perdamaian saling berinteraksi dan saling melahirkan kekejaman dari pihak-pihak yang bertikai, tentu melahirkan restrukturisasi terhadap tingkah laku masyarakat.

Interaksi sosial melalui seni tradisi membuat prilaku masyarakat Aceh, terwujud dari keharusan normatif yang terlahir dari kesantunan, rasa persaudaraan, pemurah, peramah, dan setia terhadap siapapun. Namun kondisional ini menjadi lenyap karena terjadi tindakan sosial melalui kekerasan yang dilawan pula dengan kekerasan. Rakyat tersublima ketakutan dan kecemasan karena setiap detik menyaksikan pembunuhan, pemerkosaan, penculikan, pembakaran. Muaranya kesenian tradisi Aceh pun terancam punah. Kondisi inilah yang membuat seni tradisi Aceh terkesan sulit untuk mencarinya. Syukurlah dewasa ini telah di bentuk Qanun (hukum/aturan) di bidang seni, untuk menghidupkan kembali seni tradisional Aceh yang kaya nilai-nilai agama, adat, moralitas, dan sosial.

PEMBAHASAN

A. Teater Tutur Aceh: Adnan P.M.T.O.H ‘Troubador yang Menulis di atas Angin’

Lima puluh tahun bersolo karier, (Almarhum) Teungku H. Adnan P.M.T.O.H berusaha mencari penggantinya agar kesenian Aceh yang disebut teater tutur ini memiliki penerusnya. Namun sayang sampai dengan Teungku Adnan menghadap sang khalik (meninggal dunia dalam usia 75 tahun, pada tanggal 4 Juli 2006), belum mampu menemukan penggantinya seperti beliau. Kesenian teater tutur berasal dari peugah haba yang berarti berbicara dengan bercerita semaca bakaba di Minangkabau. Sering juga disebut masyarakat Aceh poh tem berarti orang yang pekerjaannya bercerita. Ada juga yang menyebutnya dangderia seperti drama monolog atau berbicara sendiri. Teater tutur ini menjadi menarik setelah dikembangkan Teungku Adnan dengan mempergunakan alat musik rapa’i, pedang, suling (flute), bansi (block flute) dan mempergunakan proferti mainan anak-anak, serta kostum. Proferti dan alat musik serta kostum memperkaya tekhnik pemeranan seperti metode Brechtian yang memakai teknik multiple set (proferti tangan yang banyak fungsinya), dan Efek Alinasi (Memisahkan penonton dari peristiwa panggung, sehingga mereka dapat melihat panggung dengan kritis) . Teknik ini sekaligus memberi kekuatan dan dapat merubah kejadian-kejadian peran menjadi seolah-olah, serta adanya intrupsi dari penonton.

Teungku Adnan bermain sendiri, namun mampu menghadirkan beratus-ratus tokoh, dengan ekspresi dan karakter vokal yang berubah-ubah. Inilah kelebihan yang dimiliki Teungku Adnan-ia bermain sendiri di atas pentas, tetapi penonton laksana menyaksikan ratusan aktor sedang berada di pentas. Hal ini yang membuat Teungku Adnan dijuluki “Traubador dunia” oleh Prof. Dr. Jhon Smith seorang peneliti dari Amerika Serikat.

Teungku Adnan dikenal juga sebagai seorang tokoh ulama oleh masyarakat pendukungnya, sedangkan pekerjaannya disamping sebagai seniman adalah penjual obat keliling Aceh. Kesenian (teater tutur) ini dinamakan P.M.T.O.H oleh Teungku Adnan. “Asal muasal nama itu berangkat dari peristiwa yang sangat berkesan bagi saya, saya sering menaiki bus P.M.T.O.H ketika berpergian ke seluruh Aceh untuk berdagang obat, lalu bunyi klakson bus tersebut membuat saya terkesan. Maka dalam pertunjukan saya untuk selingan jual obat saya tampilkan poh tem, peugah haba , dangderia. Sembari memamerkan kebolehannya berteater itu, saya memulainya dengan menirukan bunyi klakson bus P.M.T.O.H, masyarakat Aceh sangat senang dengan penampilan saya itu. Setiap saya jual obat, penonton pasti ramai, dagangan saya laris tapi saya harus menampilkan Hikayat Malem Dewa. Akhirnya masyarakat Aceh setiap ketemu saya sering memanggil nama saya dengan sebutan Teungku Adnan P.M.T.O.H. setelah saya pikirkan sepertinya nama teater tutur saya ini adalah P.M.T.O.H”

Ternyata nama teater tutur P.M.T.O.H itu merupakan pemberian oleh masyarakat pendukungnya. Ini bukti bahwasannya sejak tahun 1970-an nama itu telah dilekatkan kepada Teungku Adnan, dan ia diterima sebagai pembaharu teater tutur Dangderia yang pemanggungannya hanya ada satu bantal, pedang dari pelepah kelapa hanya mengandalkan kekuatan ekspresi dan kekayaan vokal dalam menyampaikan Hikayat. Sementara Teungku Adnan diterima oleh masyarakat pendukungnya, sehingga dimanapun masyarakat mendengar tentang kehadiran Teungku Adnan, mereka pasti ramai-ramai mendatanginya karena ingin menyaksikan pertunjukan P.M.T.O.H.

Andaikan membicarakan tentang teater tutur Aceh, yang tampak adalah seorang penutur cerita penuh dengan nuansa teaterikal. Hal yang termaktub dalam teater tutur itu merupakan eksistensi kesusastraan Aceh ‘hikayat’ yang tidak dapat lepas dari subtansinya. Bahkan, teks sastra hikayat menjadi dasar penceritaannya. Sama halnya dengan teater modern yang tidak terlepas dari teks naskah drama yang akan digarap sutradara menuju realita teater (pertunjukan). “Hikayat dalam bahasa Aceh tidak diartikan arti asli yaitu ‘kisah’ (cerita). Bukan saja roman-roman, dongeng keagamaan, pelajaran adat. Bahkan, buku bacaan serta cerita lainnya juga dinamakan hikayat jika bahan-bahannya telah dituliskan dalam bentuk sajak (puisi) di sebut hikayat, dan ini merupakan hasil sastra yang sangat luas dalam khazanah kesenian Aceh karena menjadi seni pertunjukan”

Hikayat ketika dipertunjukan oleh Teungku Adnan dengan menghadirkan berbagai karakter tokoh di atas pentas, baik perubahan suara (vokal), kostum. Dialog-dialog yang memperagakan cara-cara berperang, jika dalam cerita tersebut terjadi peperangan antar kerajaan. Sementara itu, sastra Aceh menyimpan peristiwa budaya, hampir setiap keluarga di Aceh mengetahui secara tradisional cerita-cerita dalam hikayat. .
Biasanya seorang ibu dari etnis Aceh pada masa lalu merasa berkewajiban untuk menceritakan hikayat-hikayat itu kepada anak-anaknya, “adapun hikayat yang menyimpan peristiwa sejarah, diantaranya; Hikayat Malem Dewa, Prang Sabi, Malem Budiman, Raja Si Ujud, Malem Dagang dan lain-lain. Ada pula hikayat yang disebut dengan hikayat undang-undang seperti; sarakata Poteumeureuhom Meukuta Alam. Hikayat keagamaan, seperti; Nalam, Sipheut Dua Ploh. Tentang adat istiadat; Sanggamara. Hikayat tentang dongeng; hikayat Gumbak meueh, Indra Budiman, Raja Jeumpa”

Adnan P.M.T.O.H melakukan pengembangan menakjubkan lewat teater tutur yang awalnya peugah haba atau Dangderia . Ia sanggup menghafal 9 (Sembilan) buah hikayat-hikayat Aceh, lalu dituturkan kembali selengkapnya. Kalimat demi kalimat mengalir deras, seperti benang dibentangkan tak pernah habis. Teungku Adnan jika ada undangan lalu mempertunjukan P.M.T.O.H satu hikayat seperti Malem Dewa baru selesai dipertunjukan dalam durasi waktu 7 (Tujuh) malam berturut-turut. Tuhan memang maha kuasa, Teungku Adnan diberikan kekuatan pada ingatan, beliau mampu menyampaikan pertunjukan yang sama ditempat yang berbeda, namun beliau melakukan pertunjukan persis sama dengan pertunjukan sebelumnya, cerita yang sama dengan kata-kata yang relatif sama pula. Luar biasa.

Guru Teungku Adnan adalah Mak Lapee, generasi kedua Teungku Ali Meukek. Namun pada masa itu, penyajian hikayat secara bertutur tak dapat dikategorikan seni pertunjukan (teater tutur), karena yang disajikan hanya membaca hikayat (peugah haba). Proferti yang digunakan hanya sebilah pedang dan batal. Penampilan nyaris tanpa akting, dan agak sulit mengikuti alur cerita karena tidak terjadi perubahan karakter tokoh. Lain halnya dengan Teungku Adnan, berangkat dari ilmu yang diterima dari gurunya Mak Lapee (Seorang Ulama di Aceh Selatan yang lumpuh), lalu dikembangkan menjadi sebuah seni pertunjukan yang sangat menarik dan unik dengan inprovisasi yang sangat-sangat kaya. Menyaksikan teater tutur P.M.T.O.H, menyaksikan pentas yang dipenuhi aktor secara imajiner, padahal ia bermain sendiri.

Teungku Adnan, andai membawakan Hikayat Malem Dewa yang menceritakan tentang anak raja yang mempersunting putri dari khayangan, yaitu Puteri Bungsu. Tengku Adnan bermain dengan teknik duduk, bermain musik sendiri. Meletakkan kotak (tong) dikiri dan disebalah kanan, di dalam tong ada pakaian (kostum) serta senjata mainan. Ketika menjadi raja, langsung memakai baju ala kerajaan yang telah tersusun di dalam kotak disesuaikan dengan alur cerita. Seketika pula Teungku Adnan menjadi raja dengan karakter watak dan karakter bahasa yang berbeda. Begitu pula ketika menjadi tentara (panglima), puteri, ahli nujum, rakyat kampung, sambil berinprovisasi dengan nyanyian teungku Adnan menggantikan kostum, sehingga penonton tidak bosan. Setiap peran yang berubah, ekspresi wajahnya berubah (tipikalnya), vokalnya juga berubah sehingga penonton dengan mudah mengidentifikasi tokoh yang diperankan Teungku Adnan. Kemampuan ini yang tidak dimiliki oleh tukang cerita yang lain seperti; Zulkifli, Muda Belia bahkan Agus Nuramal. Kemampuan Teungku Adnan tak pernah tergantikan oleh siapapun.

Seorang juru bicara “penyihir” yang mampu memberikan pesona seni peran. Suatu hari dalam Hikayat Malem Dewa ia brubah peran dengan sigap. Lima detik pertama ia mengekspresikan wajah genit, matanya berkedip-kedip. Mengenakan sepotong selendang, sebuah wig, ia pun menjelma menjadi tokoh Puteri Bungsu, putri yang jelita dari khayangan. Lima detik kemudian, ia berganti peran menjadi pemuda gagah siap bertempur memperebut puteri Bungsu. Sepotong pedang terhunus di tangan, topi baja melekat di kepala. Sementara mulutnya tak putus-putus ia derukan kisah pemuda bernama Malem Dewa yang harus berangkat ke negeri di atas awan untuk menemui kekasihnya. Berbagai karakter dengan cepat saling berganti di tubuh dan suara Teungku Adnan. Ia dapat menjadi Hulubalang, laskar Aceh, jadi nenek penjaga gubuk Buntul Kubu, pemuda yang mencuri baju sang puteri atau seorang anak yang merindukan sang ibu.

Kekuatan yang paling mendasarkan dalam teater tutur P.M.T.O.H adalah daya improvisasi penyaji yang sangat tinggi. Gaya komedikalnya membawakan hikayat masa lalu dikaitkan dengan peristiwa masa kini. Kemampuan Teungku Adnan menyiasati pertunjukan ternyata dapat menghadirkan sejumlah tokoh di atas pentas dengan vokal yang berubah-ubah. Kini Sang Maestro, seniman ‘Traubador Dunia’ meninggal dunia dalam usia 75 tahun, tanpa ada pengganti. Suatu waktu, ketika penulis masih di Aceh sempat berdiskusi dengan beliau; “Soel, saya pernah tawarkan program regenerasi kepada Gubernur kita, dan Kakanwil Depdikbud Aceh, kita cetak buku tentang hikayat-hikayat Aceh yang belum tersebar itu. lalu kita tuliskan bagaimana persiapan menjadi aktor P.M.T.O.H, setelah itu kita sebarkan ke Sekolah dasar. Di SD ada mata pelajaran Hikayat dan P.M.T.O.H, lalu setiap tahun kita adakan festival menulis hikayat dan P.M.T.O.H. kalau ini dilakukan pasti akan muncul dan lahir penerus atau pengganti saya. Tapi apa jawab mereka, kita pertimbangankan, hanya jawaban basa-basi”

Sekarang Teungku Adnan P.M.T.O.H telah meninggalkan kita tanpa mewariskan P.M.T.O.H kepada siapapun. Beliau tak akan berdosa dan berduka sebab beliau semasa hidupnya sudah pernah menawarkan ini kepada pihak Pemerintah Daerah Istimewa Aceh (Sekarang NAD), tapi tidak ada respon sedikitpun. Benar Teungku Adnan, bukan hanya Aceh yang kehilangan “Traubadur Dunia” Seluruh dunia juga merasa kehilangan Teungku Adnan, teungku memang tidak rugi. Aceh khususnya dan Indonesia umumnya yang rugi sebab tak mau merawat penerus pencerita Aceh. Abad ke-12 di Perancis Selatan lahir seorang Traubadur. Lalu 900 tahun kemudian diseluruh dunia hanya di Aceh muncul kembali seorang “traubadur dunia” yakni Teungku Adnan, tapi sayang masyarakat dan pemerintah Aceh tidak mau peduli. Sekarang sang “traubadur” benar-benar sudah tiada, berapa ratus ribu tahun lagi kita harus menunggu untuk kelahiran seorang “traubadur seni tradisi yang luar biasa itu. Kesenian Aceh mampu menjadi transformasi moral dan sosial bagi masyarakat Aceh.

B. Sandiwawara Keliling Gelanggang Labu

Pemain sandiwara keliling gelanggang labu tidak pernah belajar dramaturgi, ilmu pemeranan, dan penyutradaraan secara formal, mereka memperoleh keahlian secara non-formal namun mampu mensugestif penonton.Luar biasa. Gelanggang Labu merupakan sandiwara keliling tradisional Aceh. Sandiwara ini keliling sudah ada sejak tahun 1950-an. Sandiwara ini mulai tumbuh dari sebuah desa Gelanggang Labu, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Biruen, Nanggroe Aceh Darussalam. Ketika teater ini mulai merakyat, dan diterima ditengah-tengah masyarakat, dijulukilah dengan istilah Gelanggang Labu. Awal tahun 70-an mulai menjamur grup-grup sandiwara di seluruh Aceh, diantaranya yang terkenal; Benteng Harapan, Jeumpa Aceh, Sinar Jeumpa, Sinar Desa, Sinar Harapan, Mutiara Jeumpa, Seulanga Dara, Cakradonya, dan Geunta Aceh.

Ciri-ciri pertunjukan Gelanggang Labu memiliki kesamaan yang kontras dengan ‘Komedi Stamboel’ yang dilakukan August Mahieu (1860-1906). Hal ini dapat dilihat dari reportoar yang dipilih, sama-sama mengangkat cerita 1001 malam dari hikayat-hikayat Aceh (haba), seperti; Buloeh Peurindu, bawang mirah ngoen bawang puteh, Ahmad Rhangmanyang, Putroe Ijoe, dan lain-lain. Ciri-ciri yang mendasar, sebelum permainan dimulai para aktornya memperkenalkan diri sekaligus dengan peran apa yang dia mainkan. Pembagian babak atau episode dilakukan sangat longgar dengan adanya selingan antara babak yang diisi dengan nyanyian (band), lawak, serta tari-tarian. Adegan-adengan gembira atau sedih dalam gelanggng labu memang dilakukan dengan dialog bukan dengan opera (nyanyian) seperti dalam komedi stamboel. Cerita-cerita yang akan dimainkan oleh pelakonnya hanya diceritakan secara garis besarnya saja kepada pemain ( berbentuk wos), dan lebih banyak pemain yang melakukan improvisasi. Sebagai aktor dipentas sandiwara keliling harus mampu menjadi penyanyi, pelawak dan penari sekaligus.

Sementara bentuk pemanggungannya, sandiwara keliling Gelanggang Labu sangat sederhana dengan konstruksi panggung berukuran 9X6 meter didirikan menggunakan drum kosong yang diatasnya diletakkan papan, seng sebagai atap, batang kayu sebagai penyangga, triplek untuk dinding, kain yang dilukis sebagai dekorasi sesuai tuntutan cerita dan lampu reflektor kecil untuk penerang dan pengubah suasana. Lokasi pertunjukan biasanya dilakukan di tanah lapang, ditengah areal sawah setelah usai panen padi. Grup sandiwara ini hidup dan beranak-pinak di dalam panggung tersebut (berumah), mereka melakukan keliling ke seluruh Aceh, dan berdiam (melakukan pertunjukan) di suatu daerah minimal dua bulan setelah melakukan perjalanan dan menetap di daerah lain.

Umumnya pemain sandiwara keliling Gelanggang Labu tidak pernah memiliki atau mempelajari dramaturgi secara formal. Semuanya mengalir begitu saja dengan pengetahuan otodidak yang mereka miliki. Rata-rata latar belakang pendidikan mereka hanya sampai Sekolah Dasar. Maka tidak heran bila siang hari mereka bergaul dengan masyarakat dimana mereka melakukan pertunjukan, bahkan ada yang menjadi buruh kasar di tempat itu. Ibnu Arhas (Sekarang mantan Anggota DPRD Kabupaten Pidie), seorang aktor yang pernah melakukan pertunjukan di Takengon, waktu siang hari ia berperan sebagai buruh pemetik kopi dengan pakaian kumal. Namun pada malam hari dia tampil sebagai maha bintang di atas panggung, dipuja-puji oleh penonton, setiap dia muncul selalu saja mendapat aplous dari penonton. Keterbatasan ilmu tentang bermain drama bukanlah suatu halangan bagi mereka untuk tetap terus bertahan. Umar Abdi, Ahmad Harun, Yusuf Syam, serta Idawati merupakan tokoh-tokoh teater keliling yang sadar betul atas kekurangan mereka, lalu melakukan pembaharuan agar masyarakat penonton tidak bosan. Mereka menciptakan tema-tema cerita baru yang digemari masyarakat, seperti tragedi rumah tangga, pengkhianatan, kemunafikan, masalah ambisiusnya manusia. Ide atau gagasan rata-rata bertemakan sosial dengan mudah diperoleh sutradara teater keliling, sebab mereka dekat dengan masyarakat sehingga tahu persis tentang peristiwa yang muncul ditengah masyarakat. Sutradara mengangkat realitas sosial yang tumbuh dan hidup dimana mereka melakukan pementasan, lalu diadopsi menjadi cerita yang menarik lewat kekuatan improvisasi para aktornya.

Keunggulan inilah yang membuat teater keliling ini mampu bertahan hidup dan memperoleh sambutan hangat dari penonton di seluruh Aceh. Cerita yang ditampilkan selalu aktual dan kontekstual dengan daerah dimana mereka melakukan pertunjukan. Misalnya, cerita Cut Maruhoi diperankan Ahmad Harun (lelaki yang menjadi wanita) mengisahkan tentang seorang ibu mertua yang cerewet, jahat dan sadis. Ahmad Harun benar-benar mampu masuk ke dalam penokohan Cut Maruhoi, sehingga nama tersebut begitu melekat dan populer di tengah masyarakat Aceh. Bahkan dalam pergaulan sehari-hari Ahmad Harun sering di panggil Cut maruhoi.

Namun gangguan keamanan di Daerah Istimewa Aceh (Sekarang NAD) yang mulai pecah pada tahun 1989, sangat terasa dampaknya bagi perkembangan insan seni untuk melakukan kreatifitas berkesenian. Aceh yang memiliki teater tradisional atau teater tutur, seperti; P.M.T.O.H, Sandiwara keliling Gelanggang Labu, dan Biola Aceh, serta Didong mulai terusik untuk berproses. Kemandekan kehidupan panggung keliling sangat terasa karena sering di cekal oleh Pemda dengan cara tidak memberi izin pertunjukan, alasannya gangguan keamanan. Seruan ini dikeluarkan PEMDA Aceh karena beberapa pertunjukan sebelumnya di daerah-daerah rawan konflik sering terjadi keributan. Pertunjukan sirkus di Lhoekseumawe pada tahun 1989 sempat menimbulkan kekacauan, dan panggung artis ibukota Dina Mariana pada tahun 1990 sempat di bakar oleh gerombolan tak di kenal. Mengigat hal itulah pertunjukan sandiwara keliling ‘Geunta Aceh’ pimpinan Umar Abdi pada pertengahan tahun 1991 di desa Blang Malu Kecamatan Mutiara Pidie, batal melakukan pertunjukan karena izinnya dicabut. Juga karena adanya operasi militer malam. Maka, banyak panggung sandiwara keliling pada dekade 90-an terpaksa tutup sehingga pemainnya banyak yang menganggur. Sebagian terpaksa pulang kampung menjadi petani atau buruh kasar.

Awal dekade 1992, kondisi keamanan mulai kondusif, empat tokoh seniman teater keliling; Umar Abdi, Yusuf Syam, Ahmad Harun, dan Idawati mencoba kembali membangun panggung keliling. Situasi semakin membaik, dan pertunjukan di beberapa kota Aceh Utara, Aceh Besar, Aceh Tengah dan Sabang mulai diizinkan untuk melakukan aktivitasnya. Suasana seperti itu, ternyata tidak bertahan lama. Tahun 1998 dengan berhasilnya gerakan reformasi yang dilakukan mahasiswa seluruh Indonesia untuk menumbangkan Orde Baru, kenyataannya menjadi lain. Daerah Istimewa Aceh kembali bergolak, dan GAM (Gerakan Atjeh Merdeka) kembali bergerak, mahasiswa serta ulama dayah se-Aceh menuntut referendum . TNI dan POLRI kembali menjalankan operasi. Kondisi Aceh kembali mencekam dan tak menentu, suasana yang tak menentukan itulah menyebabkan izin pertunjukan tidak dapat diberikan kepada sandiwara keliling Gelanggang labu, lagi-lagi dengan dalih keamanan. Nah, menurut amatan penulis dari tahun 1998 hingga sekarang 2009, tidak pernah terdengar di Aceh ada pertunjukan Sandiwara keliling Gelanggang Labu dipentaskan. Grup-Grup yang pernah jaya, seperti hilang di telan bumi, seniman-seniman panggung terpaksa beralih profesi, menjadi penjual ikan, petani, buruh kasar dan lain sebagainya demi menghidupi keluarganya. Kemandekan kehidupan panggung yang disebabkan oleh gangguan keamanan betul-betul membuat para pelakon, kru panggung dengan seluruh awaknya kehilangan pekerjaan tetap yang telah diyakininya berpuluh-puluh tahun pekerjaan itu mampu menghidupi keluarganya. Sekaligus mampu membangun realitas sosial bagi penontonnya.

Sementara disisi lain, daerah Aceh secara tidak langsung telah memusnahkan kekayaan keseniannya. Betapa tidak, bila hal ini terjadi terus-menerus teater keliling Aceh hanya tinggal nama sebab tak ada lagi pewarisnya. Bila tak ada pemanggungannya secara otomatis para aktor panggung keliling semakin lanjut usia dan tak ada yang mampu mewarisinya untuk melanjutkan grup-grup sandiwara keliling. Sengketa yang terjadi di tanah rencong tidak hanya menelan korban manusia, namun yang lebih menyedihkan dapat menelan sisi kebudayaan dan kesenian.jangankan sandiwara keliling Gelanggang Labu, denyut nadi Taman Budaya Aceh juga ikut terkena imbasnya. Taman Budaya Aceh sejak tahun 1970-an sampai 1997 aktif melaksanakan pertunjukan teater modern Indonesia di Aceh tiap bulan, seperti; Teater Mata pimpinan Almarhum Maskirbi, Teater Bola pimpinan Almarhum Junaidi Yacob, Teater Gita Pimpinan Junaidi Bantasyam, Teater Kuala Pimpinan Yun Casalona, Teater Peduli Pimpinan Almarhum Nurgani Asyik, Teater Alam Pimpinan Din Saja, Sanggar Cempala Karya Pimpinan Sulaiman Juned, Teater Kosong Pimpinan T.Yanuarsyah. Namun awal 1998 pertunjukan teater Modern Indonesia di Aceh mulai hilang denyutnya. Hal ini disebabkan karena gangguan keamanan.

Denyut nadi kesenian Aceh seperti terhenti. Taman Budaya sepi pertunjukan. Orang-orang tak lagi membicarakan kesenian, orang-orang lebih banyak membicarakan politik, kematian dan keadilan. Hanya seniman sastra (penyair) dan pelukis yang masih terus melakukan prosesnya. Para pekerja teater banyak yang beralih profesi, ada yang menjadi penyair, dan cerpenis. Sampai kapan hal ini terus terjadi. Andaikan situasi Aceh dibiarkan larut tanpa penyelesaian akhir, maka Aceh secara global akan kehilangan seni budayanya yang sangat kaya tersebut. Kita rindu tokoh Cut Maruhoi muncul di atas panggung, rindu lawakan yang menggelitik dari si Ma’e (Ismail) yang mampu melahirkan derai tawa. Rindu Idawati Sri panggung sandiwara keliling yang mampu menjadi aktris, penyanyi sekaligus pelawak bahkan mampu menari. Namun kini dimana mereka para punggawa sandiwara keliling Gelanggang Labu bermuara. Apakah mereka ikut terkena imbas konflik panjang di Aceh, atawa mereka tergerus air raya (Tsunami) beberapa tahun yang lalu pada 26 Desember 2004. Konfliks-Tsunami-sengketa tak pernah reda mengancam seni budaya Aceh pada nadir kepunahan.

C. Biola Aceh

Kesenian biola Aceh telah hidup di tengah masyarakat semenjak jaman colonial Belanda. Namun berkembang di Kabupaten Aceh Utara, Aceh Besar dan Pidie sejak tahun 50-an. Penamaan terhadap kesenian ini karena penggunaan instrumen biola sebagai intsrumen utamanya. Di Kabupaten Aceh Utara kesenian ini diberinama Mop-mop sedangkan di Aceh Besar dan Kaputen Pidie, biola Aceh ini di sebut Genderang Kleng. Biola yang digunakan adalah biola violin. Kesenian ini dimainkan paling banyak 5 (lima) orang pemain, masing-masing satu orang bertindak sebagai violis (syech) yang merangkap vokalis, pemimpin grup sekaligus sebagai sutradara yang menyusun dialog untuk menyanyi. Penabuh gendang, penyanyi, dan dua orang lagi sebagai penari dan pelawak, berperan sebagai Linto Baro dan Dara Baro (Suami Istri atau Marapulai kalau di Minangkabau) yang melakukan gerak tari dan banyolan sesuai irama Biola dan pukulan Rapa’i. Pertunjukannya membutuhkan panggung hanya 6 X 6 meter.

Ciri khasnya adalah adanya tarian, cerita (dialog), nyanyian lewat berbalas pantun dengan ungkapan-ungkapan lucu, menggelikan, dan penuh humor, serta para pemainnya memakai pakaian yang warnanya kontras. Biola Aceh komunikasi disampaikan lewat kekuatan humor, dan secara tidak langsung terselip nilai kritik sosial melalui pantunnya yang kocak. Kesenian ini sampai sekarang masih mampu berinteraksi dengan masyarakarat. Ini terbukti dari setiap kali pertunjukannya mendapat sambutan meriah dari penonton, penyulut tawa adalah pantunnya yang jenaka, segar dan menggelitik terkadang terkesan porno. Meskipun pola dasarnya paduan musik dengan nyanyian, namun magnitumnya justru pada gerak tubuh dan tingkah pemainnya yang kocak membuat penonton bertahan sampai dini hari. Pantun dan nyanyian, serta dialog dari penari berisi cerita lucu tentang perkawinan, dan rumah tangga yang sarat dengan masalah sosial. Juga diselingi cerita mertua atau isteri yang cerewet. Kisah rumah tangga tentang wanita yang suami tetapi mencintai pria lain. Sebaliknya pria yang telah memiliki istri namun masih mencari wanita lain. Mari kita nikmati salah satu pantunnya:
Ta ek u glee tajak koh sigeudum
Lam kayee ruhung umpung ‘nggang dama
Gajah di dumpek, rimueng di taum
Loen dhoe geuliunyeueng, loen jak bak gata.

Artinya:
Mendaki gunung memotong pohon sigeudum
Di lobang kayu, bangau bersarang
Gakah menguak, harimau mengaum
Ku tutu telinga, ku datang padamu.

Penonton turut terbahak-bahak menyaksikan bunyi biola yang terdengan sumbang,

ditingkahi suara gendang, dan disahuti pantun yang jenaka. Apalagi dihadiri penari joget yang adalah lelaki berperan sebagai wanita. Tampil dengan dandanan menor dan mencolok, terkadang mengenakan rok dan blus, tak jarang memakai kebaya dengan selendang berwarna hijau atau merah menutup kepala. Sementara penari pria mengenakan pakaian biasa, namun baju atau jasnya di pakai terbalik, terkadang juga memakai sepatu yang kebesaran. Jadi menyaksikan pertunjukan biola Aceh, menyaksikan pemain biola, penabuh gendang yang dikombinasikan dengan berpantun, menari, dan melawak. Kesenian biola Aceh, dalam proses adaptasi menyerap nilai-nilai budaya islam, tampak pada tekhnik memainkannya yaitu mengiringi vokal dengan mengikuti melodi vokal yang ditambah dengan nada hias. Melodi dasar lagu sama dengan melodi dasar biola, serta digarap secara bervariasi.

“Masyarakat Aceh yang menganut sistem feodal, namun dipengaruhi oleh unsur-unsur agama Islam, terjadi interaksi sosial yang memberikan dampak perubahan terhadap budaya. Bentuk perubahan tersebut adanya adaptasi, akulturasi, asimilasi, dan integrasi dengan kesenian ronggeng yang berasal dari Sumatera Timur. Proses adaptasi terjadi ketika terjadi pertandingan kesenian antara Aceh dengan Sumatera Timur di jaman Belanda. Sumatera Timur kesenian yang ditampilkan ronggeng. Aceh sepulang dari pertandingan tersebut, menciptakan kesenian yang hampir mirip ronggeng, diberinama Biola Aceh”

Sampai saat ini masih hidup empat orang penggesek biola, yaitu Syech Abdul Gani Krueng Mane, Syech Maneh, dan Syech Ma’e (Ismail), serta Syech Ali Basyah. Menurut mereka, biola sebagai alat musik instrumen kesenian tradisi Aceh yang berasal dari Mesir, walau biola pertama sekali diperkenalkan di Italia tahun 1719. Sama persis seperti alat musik konvensional barat. Perbedaannya terletak pada metode dalam memainkannya, penggesek biola Aceh memainkan biolanya secara terbaik. Progresi melodi pada biola aceh membentuk harmoni vertikal dengan interval kwint. Teknik memainkannya sangat mirip dengan rabab di Minangkabau, satu nada di tahan sementara nada lainnya bergerak membentuk progesi melodi.

Sudah selayaknyalah kesenian ini perlu dilestarikan. Perkembangan Biola Aceh selanjutnya memang jalan ditempat jika tidak mau dikatakan punah. Hal ini, disebabkan h terjadinya konflik bersenjata dan tsunami di Aceh. Secara tidak langsung generasi muda mengalami fase a-history, dan kurangnya pengetahuan, bahkan banyak yang tidak mengenal tentang biola Aceh. Disamping itu, perkembangan musik modern mengakibatkan minat generasi muda terhadap biola Aceh menurun. Padahal, biola Aceh sebagai salah satu seni tradisi yang populer dapat menjadi media komunikasi sosial antara sesama etnis di Aceh yang multi-etnis.

PENUTUP

Kesenian memang mampu menjadi perekat antar sesama. Teater-musik-tari dan kesenian lainnya membuat masyarakatnya luruh dalam ‘kearifan lokal’ menghilangkan perbedaan, dan menumbuhkan kebersamaan. Manusia acap kali saling bersilang pendapat tentang idealisme yang mengakar dalam diri. Namun kesenian cenderung merekatkan keretakan manusia tersebut. Aceh kehilangan juru bicara. Indonesia kehilangan seniman besar. Teungku Adnan P.M.T.O.H-Cut Maharuhoi-Idawati-Syech Abdul Gani Krueng Mane-Syech Ma’e-dan Syech Ali Basyah.

Pasca konflik dan tsunami, apakah seni-seni tradisional yang maha agung itu akan hidup, atau seni Aceh tersebut akan ikut terkubur bersama ratusan ribu rakyat Aceh yang entah dimana makamnya. Generasi muda Aceh sekarang ini pasti banyak yang tidak kenal lagi; Dangderia, Peugah Haba, Poh Tem, Dalupa, Pho, Didong, Guel, Biola Aceh, Sandiwara Gelanggang Labu dan lain-lain. Rekan-rekan seniman, pihak yang terkait, para intelektual seni, mari duduk bersama bicarakan pentingnya menghidupkan kesenian tradisi. Tugas Lembaga Pendidikan Tinggi Seni, dan Dinas Pariwisata dan Budaya, serta senimannya, atawa Kementerian Dinas Pendidikan Nasional berkenan menjadikan seni lokalitas ini menjadi mata kuliah untuk kurikulum nasional, agar seni tradisi populer ini dapat menjadi media komunikasi sosial. Sekaligus dapat terus hidup dan berkembang. Semoga!

Lokalitas seni sebagai fenomena budaya diletakkan dalam perspektif kehidupan global untuk melakukan kontruksi indentitas diri. Konsep kultural dalam nilai etnisitas keacehan untuk mengidentifikasikan masyarakat jadi ‘ahli waris’ dari seni tradisi sekaligus sebagai pelaku bagi transformasi identitas lokal yang indenpenden. Semua seni tontonan menjadi aktual, relevan dan mewakili jamannya. Senantiasa bergerak sesuai dengan konsepsi komunikasi sosial. Seni pertunjukan seperti teater tutur P.M.T.O.H, Sandiwara Gelanggang Labu, dan Biola Aceh memang kesepian dalam peti, tetapi tetap berinteraksi dengan jamannya. Sebab seni tradisi Aceh selalu bersentuhan secara aktual dan universal lewat konsep kebersamaan, dan mampu mengikuti kemajuan jaman. Seni tradisi Aceh, tak usah mempertentangkan konsepsi pertunjukan antara tradisi dengan kontemporer. Sebab pertunjukan seni tradisi Aceh sesungguhnya telah melaksanakan konsepi pertunjukan dalam tataran kontemporer.

Permasalahan yang perlu diselesaikan, kini bagaimana seni tradisi Aceh dapat dihidupkan kembali. Maka pemerintah daerah hendak perlu terus menggelar event-event kesenian yang bertaraf nasional, dan internasional seperti; Pekan Kebudayaan Aceh, Festival Baiturrahman, dan Diwana Cakradonya. Kegiatan-kegiatan yang serupa ini jelas mampu menumbuhkan seni-seni tradisi yang akan mulai punah. Jika ketiga seni ini hilang maka tanpa kita sadari budaya Aceh yang sarat dengan muatan penyadaran moral, agama, adat dan sosial terkikis dari kehidupan bermasyarakat. Kesenian tradisi di Aceh tidak hanya dianggap sebagai media hiburan semata-mata, tetapi mampu menjadi sebagai media komunikasi. Semoga seni tradisi Aceh ini tetap hidup dan berkembang. Semoga!

Kepustakaan

A.Adjib Hamzah., 1984. Pengantar Bermain Drama. CV Rosda Bandung

Agus Noor., 2006. Monolog, Aktor di Panggung Teater. Harian Kompas
Jakarta: 26 Maret 2006

Basri Daham., 2007. Gelitik Biola Aceh Makin Langka. Serambi Indonesia
Banda Aceh: 30 Agustus 2008

Budiman Sulaiman., 1988. Kesusastraan Aceh. Unsyiah Press Banda Aceh

Efeendy., 1999. Ilmu Komunikasi; Teori dan Praktek. Bandung: Rosda Karya

Herwanfakhrizal., 1996/1997. Ekspresi dalam Seni Teater. Jurnal Ekspresi
Seni Program Studi Pascasarjana UGM, 1996/1997

Margaret J. Kartomi., 2005. dalam Asvi Warman Adam, Peneliti Musik Aceh
Pasca Tsunami, Harian Kompas Jakarta: 18 Desember 2005

Mursal Esten., 1999. Kajian Transformasi Budaya. Bandung: Penerbit Angkasa

Rahman Sabur., 2003. Pengantar Drama Monolog Enam Tuan Arthur S.Nalan
Etno Teater Bandung

Sahid, Nur (ed)., 2000. Interkulturalisme Teater. Yogyakarta: Tarawang Pers

Santosa., 1993. Ancangan Semiotika dan pengkajian Susastra. Bandung: Angkasa

Sulaiman Juned., 1999. Teater Tutur Aceh: Adnan P.M.T.O.H Trobadour yang
Menulis di atas Angin. Jurnal Palanta Padangpanjang: STSI Padang
Panjang
———————., 2000. Konflik di Aceh: Sandiwara Keliling Gelanggang Labu
Terancam Punah. Jurnal Palanta Padangpanjang: STSI Padangpanjang

VCD Hikayat Malem Dewa. Produksi Jurusan Teater STSI Padangpanjang, 1998

Filed in: ESAI

No comments yet.

Leave a Reply