6:57 pm - Saturday September 20, 2014

Kesenian Didong Gayo

Oleh: Ansar Salihin

Kata didong menjadi nama kesenian tradisional di Gayo Lues berdasarkan cerita rakyat (foklore), yaitu “Asal – Usul Gajah Putih” yang dikumpulkan oleh Sulaiman Hanafiah dkk (1984 : 140 – 148). Gajah putih merupakan penjelmaan seorang sahabat yang sudah meninggal dunia, ketika Gajah Putih ini akan dibawa ke istana raja Aceh oleh orang-orang yang diperintahkan raja. Gajah Putih tidak mau berjalan dan melawan, Gajah Putih menghentak-hentakkan kakinya ke tanah dan menimbulkan bunyi dik-dik-dik. Namun ketika sahabatnya yang membawa, Gajah Putih pun berjalan dan sampai ke istana raja Aceh.

Gerakan Gajah Putih yang menghentak-hentakkan kakinya ke tanah dan menimbulkan bunyi dik-dik-dik, selalu ditirukan oleh orang-orang yang melihat kejadian itu. Akhirnya kebiasaan tersebut digunakan pada saat merasa gembira atau pada saat menyampaikan pesan dan nasihat kepada anak-anak, teman, masyarakat atau kepada siapa saja yang dianggap perlu untuk disampaikan. Oleh karena itu, kebiasaan tersebut berlangsung sampai saat ini dan disebut dengan kesenian didong.

Didong adalah kesenian khas gayo yang mengandalkan tepukan tangan diiringi seorang ceh sebagai vokalis utama dengan dibantu sekitar 30 orang penepuk, dalam sebuah grup didong. Didong memang menarik, unik, dan hanya menggunakan kekuatan tubuh sebagai alat sekaligus media didong. Selebihnya, peran ceh , vokalis utama, membuat didong menjadi sebuah seni yang identik dengan komunitas masyarakat gayo.

Seni tradisi lisan atau seni bertutur (oral tradition) didong merupakan konfigurasi seni suara, seni tari, dan seni musik serta sudah berkembang sejak perkembangan peradaban suku Gayo Lues, Aceh. Diperkirakan didong sudah lahir di daerah Gayo bersamaan dengan masuknya agama Islam.
Pembagian Didong

a. Didong Gayo Lues

 Didong alo ; didong belang (didong penyambutan tamu) Persembahan dilakukan pada saat penyambutan tamu yang diundang untuk pesta tari saman

 Didong jalu (didong laga) dilakukan dengan mempertemukan dua penutur (guru didong ; pegawe) yang berasal dari dua kampung berbeda.

 Didong Niet (didong niat) dimainkan oleh dua orang guru didong. Kedua guru didong berdiri berdampingan dan pakaian sama dengan didong jalu.

b. Didong laut, Aceh Tengah dan Bener Meriah

 Didong jalu; ini dilakukan pada waktu acara-acara tertetu seperti pesta perkawianan,pesta kithan atau sunah rasul, ulang tahun kota, dan pesta yang lainya. Dimainkan oleh dua group secara bergantian selama 6 jam dim alma hari, setiap group terdiri dari 20 orang atau lebih, dan penampilannya hanya duduk.

 Didong pentas; dilakuan pada waktu pementasan seperti pembukaan acara tertentu, hiburan dalam suatu acara, dan juga dalam acara pentas lomba seni. Didong pentas dimainkan oleh satu group yang terdiri dari 11 sampai 15 orang.

Penulis adalah Mahasiswa jurusan Seni Kriya Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang, Sumatera Barat. Anak muda berkelahiran di Negeri Berselimut Kabut desa Kepies Ijo, Bener Meriah, Aceh (11 Juni 1991). Selain berkarya lewat Seni Rupa dia juga begiat di Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang. Lewat Kuflet, ia pun terus berkreativitas dan berlatih menulis Karya Sastra dan Jurnalistik. Tulisannya berupa puisi, esai, berita dan karya lainnya.

Filed in: ESAI

No comments yet.

Leave a Reply