2:04 pm - Thursday August 28, 2014

Minangkabau Simfoni Orkestra: Dipersimpangan Jalan, Hidup Segan Mati tak Mau

Oleh: Sulaiman Juned *)

Minangkabau Simfoni Orkestra, bagi masyarakat Sumatera sudah tak asing lagi, apalagi bagi masyarakat Sumatera Barat. Orkestra ini didirikan pada desember 2006. Orkestra cikal bakal dari nama-nama besar Orkestra sebelumnya yang tumbuh di Ranah Minang sejak tahun 1985 seperti, Orkes Simfoni Bukittinggi, Orkes Simfoni Padang, Orkes Simfoni Sumatera Barat, dan Orkes Simfoni Ranah Minang. Seluruh personil Orkes merupakan mahasiswa, alumni dan dosen Sekolah Tinggi Seni Indonesia Padangpanjang.

Pertunjukan komposisi musik dalam sebuah Orkestra sangat ditentukan oleh aranger, conductor, concert master, principle, solist, player. Ini merupakan masyarakat orkses yang paling berpengaruh terhadap suksesnya pertunjukan tersebut. Manajemen pertunjukan juga memegang peranan yang tidak kalah pentingnya, manajemen produksi sudah semestinya jadi perhatian khusus. Tanpa manajemen yang bersih, jujur, terbuka tentu tak akan mampu menggerakkan sebuah pertujukan yang berisi pengelolaan terhadap manusianya. Atas dasar itu, pertunjukan yang luar biasa akan didukung oleh manajemen yang luar biasa pula, maka muaranya adalah pertunjukan yang berkualitas.

Berada dalam wilayah Orkestra, maka yang paling berkuasa adalah conductor, ia pemimpin pada pertunjukan musik, penerjemah, pelatih yang dapat mengetahui psikologi para pemainnya sehingga dapat bekerjasama dengan baik. Sekaligus seorang conductor tentunya dianggap sebagai ilmuan yang mampu mentransfer ilmu baik secara teoritis maupun praktis kepada seluruh mitra kerjanya (pendukung orkestra).

(Minggu, 18/5/08), di lapangan Kantin Kota Bukittinggi dilakukan Konser Musik 2008 bertajuk 100 tahun Kebangkitan Nasional. Malam itu orkes dipimpin oleh Marta Rosa dengan lagu pembuka Metalica yang diaransemen oleh Diansyah Putra. Metalica sebagai model, bahwasannya Orkes Simfoni mampu memainkan lagu-lagu pop, rock, jazz, dan bahkan dangdut. Besik dasar tetap klasik dalam penguasaan aransemen dan orkestrasi, Tutur Marta Rosa usai pertunjukan.

Selanjutnya Minangkabau Simfoni Orkestra tampil dalam lagu-lagu populer dengan menampilkan penyanyi Sumatera Barat diantaranya; Andi Adam, Soniya, Jaks Surya, Fani Vabiola yang masing menyanyikan tiga lagu. Sedang Helena (Idol) muncul dengan menyanyikan lagu Sempurna, Munajat Cinta, Karena Cinta, Ingat Kamu dan terakhir membawakan lagu minang yang berjudul ‘Pulang Lah Uda’. Materi-materi lagu seperti ini dengan mudah dapat dinikmati dan disuguhkan dengan baik oleh seluruh pendukung. Ini bukanlah suatu prestasi yang gemilang, sebuah orkes simfoni yang telah berpengalaman hanya bermain dalam kancah lagu populer. Menurut Suka Harjana dalam Wilma Sriwulan, “Orkes Simfoni yang tertua di Indonesia adalah Orkes Simfoni di Sumatera Barat’ (2000:68). Orkes yang tertua di Indonesia dalam perkembangannya tidak mampu mengangkat dan mengolah musik klasik standar. Selayaknya konser dalam malam 100 tahun kebangkitan nasional, Minangkabau Simfoni Orkestra tidak melulu mengangkat lagu-lagu populer, seharusnya ada tiga atau empat lagu klasik standar atau mengaransemen lagu-lagu tradisional melayu untuk dimainkan. Jika tidak ada lagu klasik standar yang dimainkan maka Minangkabau Simfoni Orkestra berada dipersimpangan jalan. Tak tahu arah untuk di tuju, padahal sangat jelas bahwasannya sebuah komunitas orkes tidak melulu mengejar selera pasar, boleh jadi agar tidak membosankan diselipkan satu, dua, tiga atau empat lagu-lagu populer untuk dapat masuk ke wilayah dunia anak muda yang seleranya ngeband .

Ada rasa bangga dan bahagia ketika menyaksikan alat musik klasik yang tersusun di atas panggung. Namun renyuh juga ketika bunyi yang keluar bukan musik klasik standar malahan lagu pop Indonesia. Konser Musik 2008 di Bukittinggi, rindu mencekam terhadap aransemen baru dari aranger muda terhadap lagu klasik standar. Rindu beberapa orang penonton tak terobati oleh Minangkabau Simfoni Orkestra. “Aku kecewa terhadap pertunjukan musik yang katanya berlabel Minangkabau Simfoni Orkestra, dalam bayangan saya akan ternikmati pertunjukan musik klasik standar atau minimal lagu-lagu tradisional Melayu yang diaransemen ulang, namun sampai di lapangan kantin malah saya menonton lagu-lagu pop, kalau lagu seperti itu lebih baik saya putar VCD saja di rumah” Ungkap Mahdiansyah salah seorang penonton yang diwawancarai di lokasi peretunjukan. Jadi Minangkabau Simfoni Orkestra tidak berani bertahan hidup dengan musik-musik klasik standar atau lagu tradisi Melayu, tetap ingin mengikuti selera pasar, maka musik di Sumatera Barat tetap saja “laksana kerakap di atas batu, hidup segan mati tak mau’. Andaikan dua saja aransemen klasik standar dilakukan, banyak penonton bertahan sampai larut malam untuk menyaksikan pertunjukan tersebut.

Ah! Kita sedang berada di ujung tanduk ketakberdayaan, idealisme seorang seniman dapat digulingkan atas nama ‘selera pasar’ sungguh memprihatinkan. Apakah harus kita ombral murah selembar harga diri kesenimanan untuk dapat bersanding di sebuah kampung bernama ‘terkenal’. Silakan, segalanya kembali kepada individualisme seorang seniman.

Selamat walau terkurang atawa lebih, hanya kita yang membaca dan berkaca. Semoga kita tak bercermin pada kaca yang terbelah. Begitulah seharusnya seniman.

Penulis adalah penyair, Sutradara dan Pendiri dan Penasehat Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang, juga Dosen Teater ISI Padangpanjang.

Filed in: ESAI

No comments yet.

Leave a Reply